Minggu, 07 Juli 2013

Tafsir Ibnu Katsir Surat An-Nahl 125


Surah An-Nahl ayat 125
äí÷Š$# 4n<Î) È@Î6y y7În/u ÏpyJõ3Ïtø:$$Î/ ÏpsàÏãöqyJø9$#ur ÏpuZ|¡ptø:$# ( Oßgø9Ï»y_ur ÓÉL©9$$Î/ }Ïd ß`|¡ômr& 4 ¨bÎ) y7­/u uqèd ÞOn=ôãr& `yJÎ/ ¨@|Ê `tã ¾Ï&Î#Î6y ( uqèdur ÞOn=ôãr& tûïÏtGôgßJø9$$Î/ ÇÊËÎÈ  
Artinya: Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.
Hikmah: ialah Perkataan yang tegas dan benar yang dapat membedakan antara yang hak dengan yang bathil.
Asbabun Nuzul
            Para mufasir berbeda pendapat seputar sabab an-nuzul (latar belakang turunnya) ayat ini. Al-Wahidi menerangkan bahwa ayat ini turun setelah Rasulullah SAW menyaksikan jenazah 70 sahabat yang syahid dalam Perang Uhud, termasuk Hamzah, paman Rasulullah. Al-Qurthubi menyatakan bahwa ayat ini turun di Makkah ketika adanya perintah kepada Rasulullah SAW, untuk melakukan gencatan senjata (muhadanah) dengan pihak Quraisy. Akan tetapi, Ibn Katsir tidak menjelaskan adanya riwayat yang menjadi sebab turunnya  ayat tersebut.
            Meskipun demikian, ayat ini tetap berlaku umum untuk sasaran dakwah siapa saja, Muslim ataupun kafir, dan tidak hanya berlaku khusus sesuai dengan sabab an- nuzul-nya (andai kata ada sabab an-nuzul-nya). Sebab, ungkapan yang ada memberikan pengertian umum. Ini berdasarkan kaidah ushul: 
أَنَّ الْعِبْرَةَ لِعُمُومِ اللَّفْظِ لَا بِخُصُوصِ السَّبَب

Artinya: “Yang menjadi patokan adalah keumuman ungkapan, bukan kekhususan sebab
            Setelah kata ud‘u (serulah) tidak disebutkan siapa obyek (maf‘ûl bih)-nya. Ini adalah uslub (gaya pengungkapan) bahasa Arab yang memberikan pengertian umum (li at-ta’mîm).
Dari segi siapa yang berdakwah, ayat ini juga berlaku umum. Meski ayat ini adalah perintah Allah kepada Rasulullah, perintah ini juga berlaku untuk umat Islam. Sebagaimana kaidah dalam ushul fikih :
   خطاب الرسول خظاب لامته مالم يرد دليل التحصيص

Artinya: “Perintah Allah kepada Rasulullah, perintah ini juga berlaku untuk umat Islam, selama tidak ada dalil yang mengkhususkannya.

Tafsir Ibnu Katsir
            Allah SWT berfirman, memerintahkan Rasul-Nya Muhammad saw untuk menyeru makhluk ke jalan Allah dengan cara hikmah ( perkataan yang tegas dan benar ). Ibnu Jarir berkata, “dan demikianlah apa yang diturunkan Allah kepada Muhammad dari kitab, sunnah dan pelajaran yang baik, yaitu tentang sesuatu yang di dalamnya terdapat larangan dan ketetapan bagi manusia. Mengingatkan mereka dengan itu semua (al-Kitab, sunnah dan mauizhoh) agar mereka takut akan siksa Allah SWT.
1.     Penjelasan
Dalam Al-Qur'an An-Nahl ayat 125 terdapat kata kunci sebagai berikut:
v Bil Hikmah (بالحكمة)
“Serulah manusia kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah”
Ayat di atas mengandung makna perintah, dengan adanya kata ادع Allah memerintahkan untuk menyeru kepada manusia kepada jalan yang benar dengan cara hikmah. Oleh karena mengandung pengertian perintah. Maka lafadz itu memberi pengertian keharusan (wajib). Dengan demikian perintah mi menjadi wajib untuk dilaksanakan yaitu: mengajak manusia dengan jalan hikmah.
Berdasarkan penafsiran para mufasir hikmah mengandung makna sebagai berikut:
Ø Perkataan yang kuat disertai dalil yang menjelaskan kebenaran dan menghilangkan kesalahpahaman.
Ø Pengetahuan tentang rahasia dan faedah segala sesuatu. Dengan pengetahuan sesuatu itu dapat diyakini keadaannya/pengetahuan itu memberi manfaat.
Ø Perkataan yang tepat dan benar yang menjadi dalil (argumen) untuk menjelaskan mana yang hak dan mana yang bathil.
Ø Mengetahui hukum-hukum Al-Qur'an, paham Al-Qur'an, paham agama, takut kepada Allah, benar perkataan dan perbuatan.
Ø Tutur kata yang mempengaruhi jiwa.
Ø Akal budi yang mulia, dada yang lapang dan hati yang bersih. Menarik perhatian orang kepada agama ( kepercayaan terhadap Tuhan ).
Ø Perkataan yang tegas dan benar.
Dengan demikian bila diaplikasikan ke dalam pendidikan Islam, maka hikmah dapat digunakan sebagai salah satu metode pendidikan agama Islam Dari penafsiran mufasir di atas, dapat disimpulkan bahwa hikmah mengandung arti pengetahuan yang dalam yang menjelaskan kebenaran serta menghilangkan kesalahpahaman melalui tutur kata yang tegas dan benar serta mempengaruhi jiwa, akal budi yang mulia, dada yang lapang dan hati yang bersih.
Aplikasi metode hikmah dalam pendidikan Islam, mengindikasikan adanya tanggung jawab pendidik. Dengan pengetahuan yang dalam akal budi yang mulia, perkataan yang tepat dan benar serta sikap yang proporsional dari pendidik, maka tujuan pendidikan dapat terwujudkan.
Metode hikmah mewujudkan suasana kondusif yang memungkinkan terjadinya interaksi edukatif yang menyentuh siswa untuk dapat menerima dan memahami serta mendorong semangat belajar, melalui terwujudnya komunikasi baik antara pendidik dan peserta didik. Dimana pembinaan karakter peserta didik dan kewibawaan pendidik tetap terjaga.
v Al-Mau'izhoh al-ilasanah (والموعضة الحسنة) / pelajaran yang baik.
Huruf "wawu" (و) pada kalimat di atas adalah huruf athaf, yang menghubungkan dengan kalimat sesudahnya. Dengan demikian cara kedua dalam menyeru manusia kepada jalan yang benar adalah dengan cara al-mau'izhoh al-hasana
Dalam tafsiran para mufasir bahwa الموعظة الحسنة mengandung arti sebagai berikut :
·      Pelajaran dan peringatan.
·      Dalil-dalil yang bersifat dzanni yang dapat memberi kepuasan kepada orang awam.
·      Pendidikan dengan bahasa yang lemah lembut sehingga memberikan ketentraman.
·      Pendidikan yang baik yang disambut oleh akal yang sejahtera dan diterima oleh tabi'at manusia yang benar.
v Nasehat yang baik.
Berdasarkan dari beberapa tafsir, al-mau'izhoh hasanah mengandung arti pendidikan/nasihat (baik pelajaran atau peringatan), dengan cara lemah lembut sehingga dapat diterima dan menimbulkan ketenangan dan ketentraman jiwa bukan kecemasan, gelisah atau ketakutan".
Al-mau'izhoh hasanah adalah bentuk pendidikan dengan memberikan nasehat dan peringatan baik dan benar, perkataan yang lemah lembut, penuh dengan keikhlasan, menyentuh hati sanubari, menentramkan dan menggetarkan jiwa peserta didik untuk terdorong melakukan aktivitas dengan baik.
Dalam aplikasinya al-mau'izhoh hasanah berupaya untuk memahami peserta didik dengan menghilangkan sikap egois, sehingga nasihat dapat diterima dengan baik. Peserta didik memiliki kebutuhan baik jasmani dan rohani, kebutuhan biologis, kasih sayang, rasa aman, rasa harga diri dan aktualisasi diri yang berkaitan erat dengan pendidikan mau'izhoh hasanah.
Dengan demikian dapat dipahami bahwa memberikan nasihat itu tidak mudah. Mau'izhoh hasanah tidak hanya terbatas pada nasihat tetapi perlu dapat dilaksanakan secara terencana, bertahap dan bertanggung jawab, artinya pemberi nasihat (pendidik) memahami etika yang baik dalam memberikan nasihat, dilakukan berulang-ulang dan teraplikasikan dengan baik.
Mauizhoh hasanah merupakan salah satu metode pendidikan Islam, yang memberikan penyucian dan pembersihan rohani/jiwa, yang memungkinkan peserta didik menerima, memahami dan menghayati terhadap materi yang disampaikan. untuk menjadi hamba yang mendapat keridhoan Allah SWT. Dalam kehidupan di dunia dan di akhirat.
v Mujadilhum Bi al-lati Hiya Ahsan (جادلهم بالتى هي احسن)
bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik.
Esensi dari ayat di atas adalah, bahwa Allah SWT memerintahkan bermujadalah hanya dengan cara yang terbaik, sehingga salah satu cara dalam menyeru manusia kepada kebenaran.
Berdasarkan penafsiran para mufassir, dapat diketahui bahwa mujadalah bi al-lati hiya ahsan, mengandung arti sebagai berikut:
1)  Bantahan yang lebih baik, dengan memberi manfaat, bersikap lemah lembut, perkataan yang baik, bersikap tenang dan hati-hati, menahan amarah serta lapang dada.
2)  Percakapan dan perdebatan untuk memuaskan penantang.
3)  Perdebatan yang baik, yaitu membawa mereka berpikir untuk menemukan kebenaran, menciptakan suasana yang nyaman dan santai serta saling menghormati
4)  Perbantahan atau pertukaran pikiran dengan baik yaitu tidak menyakiti hati dan menggunakan akal yang sehat.
Bila diaplikasikan ke dalam pendidikan Islam maka mujadalah dapat dijadikan suatu metode pendidikan agama Islam sebagai metode mujadalah bi al-lati hiya ahsan.
Berkenaan dengan pengertian jadala, para ulama mengartikan jadala dengan bertukar pikiran (berdialog), termasuk dengan cara saling mengalahkan argumentasi lawan. Dengan demikian asumsi sementara bila di dalam Al-Qur'an terdapat dialog dan ada usaha saling mematahkan lawan dan bersifat keras. maka dialog tersebut sebagai jadal atau mujadalah.
Namun mujadalah yang dimaksud pada ayat ini adalah mujadalah dengan cara terbaik. Hai ini mengindikasikan bahwa adanya bentuk mujadalah yang benar-benar tertata dengan rapi dan terorganisir.
Dengan demikian dapat dipahami bahwa mujadalah di sini mengandung makna sebagai proses penyampaian materi melalui diskusi atau perdebatan, bertukar pikiran dengan menggunakan cara yang terbaik, sopan santun, saling menghormati dan menghargai serta tidak arogan. Allah SWT telah melarang  mujadalah yang memiliki unsur pertengkaran dan permusuhan.
Allah berfirman dalam QS. al-Ankabut ayat 46:

* Ÿwur (#þqä9Ï»pgéB Ÿ@÷dr& É=»tGÅ6ø9$# žwÎ) ÓÉL©9$$Î/ }Ïd ß`|¡ômr& žwÎ) tûïÏ%©!$# (#qßJn=sß óOßg÷YÏB ( (#þqä9qè%ur $¨ZtB#uä üÏ%©!$$Î/
tAÌRé& $uZøŠs9Î) tAÌRé&ur öNà6ös9Î) $oYßg»s9Î)ur öNä3ßg»s9Î)ur ÓÏnºur ß`øtwUur ¼çms9 tbqßJÎ=ó¡ãB ÇÍÏÈ  
Artinya:  dan janganlah kamu berdebat denganAhli Kitab, melainkan dengan cara yang paling baik, kecuali dengan orang-orang zalim di antara mereka, dan Katakanlah: "Kami telah beriman kepada (kitab-kitab) yang diturunkan kepada Kami dan yang diturunkan kepadamu; Tuhan Kami dan Tuhanmu adalah satu; dan Kami hanya kepada-Nya berserah diri".
Yang dimaksud dengan orang-orang yang zalim Ialah: orang-orang yang setelah diberikan kepadanya keterangan-keterangan dan penjelasan-penjelasan dengan cara yang paling baik, mereka tetap membantah dan membangkang dan tetap menyatakan permusuhan.
Selanjutnya dapat di ketahui pula bahwa dalam melakukan mujadalah hendaknya tidak memancing lawan dengan mengeluarkan kata-kata yang kasar karena tidak sesuai dengan nilai-nilai etika Islami. Kata-kata serta sikap yang kasar dapat menimbulkan suasana yang panas, menghindari kesombongan, tinggi hari dan nafsu untuk menjatuhkan lawan.
Proses diskusi bertujuan menemukan kebenaran, memfokuskan diri pada pokok permasalahan. Menggunakan akal sehat dan jernih, menghargai pendapat orang lain, memahami tema pembahasan, antusias, mengungkapkan dengan baik, dengan santun, dapat mewujudkan suasana yang nyaman dan santai untuk mencapai kebenaran serta memuaskan semua pihak. Demikianlah di antaranya mujadalah yang di kehendaki oleh Al-Qur'an (mujadalah bi al-lati hiya ahsan).
Peserta didik adalah individu yang menyukai pergaulan, berkomunikasi, lisan dan tulisan. Dalam memecahkan masalah mencari solusi, perlu menggunakan akal. Ketika terjadi suatu masalah maka tidak hanya asal bicara, melainkan dengan menggunakan pemikiran yang jelas, berdasarkan fakta yang akurat, perkataan yang tepat serta alur pikiran yang sistematis dan logis.
Dalam proses pendidikan, mujadalah bi al-lati hiya ahsan secara esensial adalah metode diskusi / dialog yang dilaksanakan dengan baik sesuai dengan nilai Islami. Selain itu metode ini berguna untuk melatih keterampilan berargumentasi, berbicara dan mendengar. Diskusi sebagai proses membangun argumentasi, perlu rasional, dengan menggunakan pikiran yang cermat.

2.      Kandungan Surat An-Nahl: 125
Metode dakwah Rasulullah mengacu pada anjuran Allah mengenai cara berdakwah yang tercantum dalam Al-Qur’an Surat An-Nahl ayat 125. Ayat ini mencakup beberapa metode dakwah sebagai berikut:
a.    Disampaikan dengan Cara Hikmah dan Pengajaran yang Baik.
Cara hikmah yang dimaksud di sini adalah perkataan yang tegas dan benar yang membedakan yang hak dan yang bathil. Dakwah harus disampaikan dengan cara yang hikmah, hingga tidak manimbulkan hal yang samar-samar yang membingungkan. Pengajaran yang baik di dalam metode dakwah Rasulullah juga dimaknai sebagai dakwah yang baik disampaikan dengan cara yang lemah lembut. Rasulullah telah mengajarkan kelemah lembutan yang beliau tunjukkan tak hanya kepada para sahabat dan orang-orang muslim. Namun juga tetap lemah lembut pada musuh yang akan membunuh beliau. Inilah ketinggian akhlak berdakwah Rasulullah yang mengacu pada anjuran hikmah dalam Al-Qur’an.
b.    Berdebat dengan Cara yang Baik.
Metode dakwah Rasulullah senantiasa menghindari cara berdebat yang hanya akan melemahkan seorang dai. Rasulullah senantiasa menghindari perdebatan yang diajak oleh kaum kafir Qurays. Utusan tersebut merayu dan membujuk Rasulullah untuk meninggalkan dakwah yang diperintahkan Allah. Sebagai gantinya kaum kafir Qurays akan memberikan apa saja yang dikehendaki Rasulullah seperti harta, wanita, dan jabatan. Dalam kondisi perdebatan yang sangat penting tersebut (menuntut pada akidah) Rasulullah menunjukkan sikap yang tenang dan cerdas. Beliau mempersilahkan utusan tersebut selesai berbicara, beliau menanyakan pada utusan tersebut: “sudah selesai Anda berbicara?”. Inilah bentuk keteladanan Rasulullah yang diajarkan kepada ummat manusia dalam menyebarkan dan menyampaikan ajaran dakwah. Bahkan dalam kondisi perdebatan yang sudah mencapai klimaks nilai-nilai dakwah sekalipun Rasulullah tetap mengajarkan kepada manusia cara berdebat dan berargumen yang baik dan bijak.
c.    Membalas Kejahatan dengan Kebaikan.
Metode dakwah Rasulullah lainnya yang diajarkan kepada ummatnya adalah membalas sikap jahat yang dilakukan objek dakwah dengan akhlak mulia yang mengetuk hati objek dakwah, untuk selanjutnya mengantarkan kepada keimanan. Suatu ketika Rasulullah sering dicaci oleh seorang pengemis buta, Rasulullah senantiasa bersabar menyuapi dan memberi makan pengemis. Sementara dirinya selalu dihujat. Setelah Rasulullah wafat, barulah si pengemis tersebut tau bahwa yang menyuapi dan memberinya makan selama ini adalah Rasulullah. Barulah pengemis tersebut masuk Islam.


SIMPULAN
1.    Al-Qur'an surat an-Nahl ayat 125 merupakan ayat yang mengandung nilai-nilai edukatif tentang metode pendidikan agama Islam yang meliputi: Bil hikmah, Almau'idzoh hasanah, dan Mujaadalah billatii hiya ahsan.
2.    Berdasarkan penafsiran para mufassir terhadap al-Qur'an surat an-Nahl ayat 125 terdapat tiga metode pendidikan:
a.   Metode pendidikan dengan melalui bil-hikmah, yakni: pengetahuan yang dalam yang menjelaskan kebenaran serta menghilangkan kesalah-pahaman melalui tutur kata yang tegas dan benar serta mempengaruhi jiwa akal budi yang mulia, dada yang lapang dan hati yang bersih serta mampu bersikap proporsional, mampu membedakan mana yang harus di kerjakan dan mana yang harus ditinggalkan.
b.   Metode pendidikan dengan melalui al-mau'idhotil hasanah, menurut tafsiran para mufasir artinya adalah pendidikan yang baik. Yakni bentuk pendidikan dengan memberikan nasehat dan peringatan baik dan benar, perkataan yang lemah lembut, penuh dengan keikhlasan, menyentuh hati sanubari, menentukan dan menggetarkan jiwa peserta didik untuk terdorong melakukan aktivitas dengan baik.
c.   Metode pendidikan dengan melalui mujaadalah billatii hiya ahsan artinya adalah bantahan yang lebih baik, yakni bantahan dengan memberi manfaat, bersikap lemah lembut perkataan yang baik bersikap tenang dan hati-hati menahan amarah serta lapang dada.



DAFTAR PUSTAKA
1.    Ibnu Katsir, Tafsir Ibnu Katsir ( CD. Holly Qur,an ).
2.    Ad-Dimasyqi, Ibn Katsir. 1412 H. Dar ul-Fikr. jilid II
3.    Ahmad, Muhammad bin, Abdurrahman bin Abi Bakr al-Mahalli. As-Suyuthi, Dar ul-Hadîts. Kairo
4.    Isma’il, Al-imam Abdul Fida. 2003. Tafsir Ibnu Kasir. Bandung: Sinar Baru Algensindo
6.    Al-Qur’an dan Terjemah





Tidak ada komentar:

Poskan Komentar